Aku sedang kebingungan.
Sudah lama aku memikirkan cerita apa yang ingin kutulis untuk menjadi sebuah novel. Ide datang silih berganti, tetapi setiap kali hendak memulainya, semangatku perlahan menghilang. Cerita yang kemarin terasa menarik, hari ini terasa hambar. Aku membuka halaman kosong, menatapnya beberapa saat, lalu menutupnya lagi.
Aku ingin menulis tentang rumah tangga yang menyimpan misteri. Tentang sebuah keluarga yang dari luar terlihat biasa saja, tetapi ternyata menyimpan sesuatu yang tidak diketahui siapa pun. Ada rahasia, kebohongan, hubungan yang perlahan berubah, dan kejadian-kejadian kecil yang membuat pembaca terus bertanya-tanya.
Ide itu sebenarnya membuatku tertarik.
Lalu pikiranku mulai dipenuhi pertanyaan.
Apakah ada yang akan menyukai cerita ini?
Apakah ada yang akan membacanya?
Bagaimana kalau aku sudah menghabiskan banyak waktu untuk menulis, lalu tidak ada seorang pun yang peduli?
Pertanyaan-pertanyaan itu ternyata jauh lebih melelahkan daripada proses menulisnya sendiri.
Aku jadi sibuk memikirkan pembaca sebelum ceritanya bahkan memiliki halaman pertama.
Mungkin aku perlu berhenti memikirkan semua itu.
Aku ingin kembali pada alasan paling sederhana mengapa aku menulis: karena aku punya cerita yang ingin kutuangkan.
Kali ini aku ingin menikmati prosesnya. Aku ingin penasaran dengan tokoh-tokoh yang kubuat sendiri. Aku ingin ikut merasakan ketegangan ketika sebuah rahasia mulai terbuka. Aku ingin tersenyum ketika menulis adegan yang kusukai dan merasa sesak ketika sampai pada bagian yang menyakitkan.
Aku ingin membuat sebuah novel yang membuatku betah berada di dalamnya.
Novel yang ketika selesai kutulis, aku bisa membacanya kembali beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun kemudian dan masih merasakan sesuatu.
Aku ingin menuangkan apa pun yang selama ini berputar di kepala. Perasaan, kegelisahan, khayalan, mungkin juga hal-hal yang sulit kuungkapkan secara langsung. Semuanya bisa menemukan tempatnya di dalam cerita.
Mungkin setelah novel itu selesai, tidak banyak orang yang membacanya.
Mungkin juga ada seseorang yang menemukannya dan menyukai cerita itu.
Aku tidak tahu.
Untuk sekarang, aku hanya ingin menulis.
Aku ingin menyelesaikan satu cerita yang benar-benar ingin kubaca.
Dan ketika sampai di halaman terakhir, aku ingin menutup novel itu dengan perasaan puas sambil berkata dalam hati,
“Aku senang sudah menulisnya.”
