Bab 10: Kilas Balik ke Masa Kuliah
Rio duduk di kafe yang ramai, menunggu pesanan. Ponselnya tergeletak di meja, senyap sejak ia mematikan notifikasinya. Ia sedang mengerjakan proyek, tetapi pikirannya melayang ke masa lalu, ke awal dari segalanya. Ke masa kuliah.
Saat itu, ia adalah seorang mahasiswa yang cerdas, tetapi pemalu dan kurang percaya diri. Ia selalu ragu-ragu untuk mempresentasikan idenya, takut akan penolakan. Sampai ia bertemu dengan Damar di kelas Desain Grafis. Damar adalah kebalikan dirinya: percaya diri, karismatik, dan selalu menjadi pusat perhatian.
Suatu hari, dosen memberikan tugas kelompok. Rio dan Damar dipasangkan. Rio, dengan kecanggungannya, menawarkan ide-ide brilian yang ia miliki, tetapi ia terlalu takut untuk menyampaikannya di depan kelas. Damar, melihat potensi itu, mengambil alih. "Gue yang presentasi, Yo. Lo yang bikin konsepnya," kata Damar dengan senyum. "Ide lo keren, tapi butuh penyampaian yang kuat."
Rio setuju. Ia menghabiskan malam-malam tanpa tidur untuk menyempurnakan konsep, membuat sketsa, dan menuliskan setiap detail. Keesokan harinya, Damar mempresentasikan ide itu di depan kelas. Ia berbicara dengan penuh keyakinan, seolah-olah semua ide itu adalah miliknya. Dosen dan teman-teman sekelas terpukau. Proyek mereka mendapatkan nilai A, dan Damar mendapatkan semua pujian.
Setelah kelas, Damar menepuk punggung Rio. "Hebat, kan? Kita tim yang bagus."
Rio merasa bangga, meskipun ada sedikit rasa hampa. Ia bangga karena idenya diakui, tetapi ia hampa karena ia tidak mendapatkan kredit. Namun, ia tidak peduli. Baginya, bisa membantu Damar dan membuat proyek itu sukses sudah lebih dari cukup. Ia tidak menyadari, ia baru saja menetapkan sebuah preseden, sebuah pola yang akan mengikutinya selama bertahun-tahun.
Pola itu terulang terus. Damar akan datang kepadanya dengan masalah, Rio akan memberikan solusi, dan Damar akan mengambil semua pujian. Rio selalu merasa senang, ia merasa dihargai. Ia tidak sadar bahwa ia telah membiarkan orang lain mengeksploitasi dirinya. Ia tidak tahu bahwa ia adalah sebuah sumber daya, bukan seorang teman.
Di tengah lamunannya, ponsel Rio bergetar. Ia menatap layar, dan ia melihat notifikasi dari Damar. Yo, denger-denger lo lagi ngerjain proyek besar. Jangan lupa kabarin gue kalau butuh masukan, ya!
Rio tersenyum miris. Damar tidak pernah berubah. Ia masih menganggap Rio sebagai bank ide yang siap sedia. Rio menekan tombol "hapus" pada pesan itu, dan ia tidak merasa ada gejolak di hatinya. Tidak ada lagi marah, tidak ada lagi sedih. Hanya sebuah perasaan damai, sebuah perasaan tahu bahwa ia tidak akan pernah lagi kembali ke masa lalu itu.
Ia kembali menatap layar laptopnya, di mana presentasi proyek barunya menanti. Ia tahu ia tidak akan memberikan ide-ide itu kepada siapa pun. Ini adalah proyeknya, karyanya, dan kesuksesannya akan menjadi miliknya sendiri. Ia tidak lagi membutuhkan pengakuan dari orang lain. Ia hanya membutuhkan pengakuan dari dirinya sendiri.
