Warung Bi Asih adalah jantung desa. Di sanalah berita lahir dan mati, reputasi dibangun dan dihancurkan, di antara kepulan uap mi rebus dan aroma kopi jahe yang tajam. Pagi itu, Oding duduk sendirian di pojok, mengaduk kopinya dengan gerakan lambat. Wajahnya sengaja ia pasang sedikit murung, cukup untuk mengundang simpati tetapi tidak cukup untuk terlihat menyedihkan. Ia tidak perlu menyalakan api; ia hanya perlu menyediakan kayu kering dan membiarkan orang lain yang menyulutnya.
Umpannya disambar. Bu Lastri, pemilik suara paling nyaring seantero desa, duduk di seberangnya tanpa diundang. "Ding, kok sendirian saja? Satiah mana? Dengar-dengar sudah pulang dari kota?" tanyanya, matanya yang kecil berbinar penuh rasa ingin tahu.Inilah panggungnya. Oding mengangkat wajah, memasang ekspresi lelah seorang pria yang menanggung beban dunia. Ia menghela napas panjang sebelum menjawab, suaranya pelan dan sarat akan kepasrahan. "Kami sudah pisah, Bu. Mungkin saya yang kurang baik jadi suami."Ia berhenti, membiarkan kalimat itu meresap. Ia tidak menambahkan apa-apa lagi. Ia tahu, dalam kekosongan itulah imajinasi orang-orang akan bekerja paling liar. Ia melihat percikan pemahaman di mata Bu Lastri, dan ia tahu, benih pertama telah tertanam.Di seberang jalan, di dalam kios pulsanya yang pengap, Soni merasakan perubahan itu bukan seperti badai, melainkan seperti pergeseran angin yang nyaris tak terasa. Awalnya hanya hal-hal kecil. Tatapan Bu Lastri yang terasa lebih lama dari biasanya saat membeli pulsa, senyumnya yang sedikit lebih kaku. Ia mencoba mengabaikannya, menafsirkannya sebagai buah dari paranoia yang ditanamkan Oding malam itu.Namun, angin itu terus berembus. Saat ia bergabung dengan bapak-bapak di pos ronda pada sore hari, obrolan mereka yang tadinya riuh tentang panen mendadak beralih canggung ke topik cuaca. Soni merasa seperti ada lingkaran kapur tak terlihat yang digambar di sekelilingnya. Setiap kali ia melangkah mendekat, orang-orang mundur selangkah. Bisikan-bisikan berhenti, digantikan oleh keheningan yang lebih menusuk daripada tuduhan langsung.Satu-satunya orang yang tampak tidak terpengaruh adalah Pak RT. Pria paruh baya yang dihormati itu masih menyapanya seperti biasa, bahkan menanyakan kabar anak-anaknya. Sikap normal Pak RT menjadi sauh bagi Soni di tengah lautan kecurigaan yang mulai bergelombang. Mungkin ini semua hanya perasaannya saja. Mungkin Oding hanya menggertak.Oding, dari bengkelnya, mengamati ini dengan cermat. Ia melihat bahwa Pak RT adalah benteng terakhir yang melindungi Soni. Benteng itu harus ia runtuhkan, bukan dengan kekuatan, tetapi dengan kelihaian. Kesempatan itu datang saat ia melihat Pak RT sedang bersusah payah memperbaiki kursi goyang di teras rumahnya.Dengan langkah yang disengaja, Oding menghampirinya. "Biar saya bantu, Pak RT," tawarnya dengan nada hormat.Pak RT awalnya menolak, namun akhirnya menyerah pada desakan Oding yang halus. Oding bekerja tanpa pamrih, menolak bayaran dan hanya menerima segelas teh manis. Saat mereka duduk berdua di teras, di samping kursi yang kini kokoh kembali, Oding memulai gerakannya."Saya jadi teringat Soni, Pak," kata Oding, matanya menatap kosong ke jalanan. "Dia sahabat yang baik. Dulu, dia sering sekali menasihati saya, katanya, 'Ding, kamu harus kerja lebih keras, kasihan Satiah'. Dia sangat perhatian pada kami."Oding menyajikan kalimat itu sebagai sebuah pujian, sebuah kenangan manis tentang sahabatnya. Namun di telinga Pak RT, di tengah desas-desus yang mulai ia dengar, kalimat itu memiliki makna ganda. Oding tidak menuduh; ia hanya membuat Soni terdengar seperti orang yang tahu lebih banyak daripada yang seharusnya."Soni memang teman yang baik," jawab Pak RT pelan, namun kini ada nada keraguan dalam suaranya.Citra Oding sebagai korban yang mulia dan pemaaf mulai terbentuk di benak Pak RT, sementara bayangan di sekeliling Soni semakin gelap. Oding tidak perlu membangun penjara untuknya; warga desa yang melakukannya, bata demi bata, dengan tatapan curiga dan bisikan mereka. Dan Pak RT baru saja meletakkan salah satu bata terpenting.Malam itu, Soni tidak tahan lagi. Ia melihat Mang Udin dan dua orang lainnya sedang mengobrol di gardu, dan ia yakin sekali mendengar namanya disebut. Kali ini, ia juga melihat Pak RT ada di antara mereka, mengangguk-angguk dengan wajah serius. Sauhnya telah terlepas. Ia merasa terombang-ambing. Didorong oleh amarah dan rasa frustrasi yang memuncak, ia menghampiri mereka."Kalian membicarakan saya, ya?" tanyanya, suaranya lebih keras dari yang ia maksudkan.Ketiga orang itu terdiam, saling berpandangan dengan canggung. Mang Udin, yang mulutnya paling tidak bisa direm, hanya tersenyum kecut. "Orang yang merasa, memang suka begitu," jawabnya pelan.Jawaban itu tidak membantah, juga tidak membenarkan. Tapi bagi Soni, itu adalah sebuah pengakuan. Dan bagi Mang Udin serta yang lainnya, reaksi defensif Soni yang meledak-ledak itu adalah konfirmasi. Seperti seekor hewan yang panik, semakin keras ia meronta, semakin kencang pula jerat itu mencekiknya. Ia melirik ke arah Pak RT, mencari pembelaan, namun yang ia temukan hanyalah tatapan kecewa.
