PACARAN = KELAKUAN BINATANG
Oktober 30, 2025
0
Najma melirik jam dinding di kelasnya. Lima menit lagi bel pulang berbunyi. Ia menghela napas, bersiap menghadapi kerumunan yang selalu tercipta di gerbang sekolah, apalagi jika ada "pertunjukan" tak senonoh dari sepasang murid paling berani di SMP Islam Al-Falah.Sekolah ini sebetulnya ketat, tapi Yudi, siswa kelas 9 yang bertubuh jangkung, selalu berhasil mencuri kesempatan untuk menunjukkan apa yang ia anggap sebagai "kekerenan" dan "keberanian" di mata teman-temannya. Targetnya: Hani, siswi kelas 8 yang tersipu-sipu dan merasa Yudi adalah pria paling gentle karena berani melanggar norma.Puncaknya terjadi saat jam istirahat beberapa hari lalu. Saat kelas 8 sepi, Yudi masuk dan tanpa ragu memeluk Hani di depan kelas. Anak-anak yang kebetulan lewat terperangah. Yudi tersenyum penuh percaya diri, seolah ia pahlawan dalam adegan film.Bagi Najma, itu justru pemandangan paling menyedihkan. Prinsipnya sudah kuat. Nasihat orang tuanya tentang menjaga kehormatan diri, fokus pada ilmu, dan menjauhi bahaya pergaulan bebas seperti kerugian dan kehinaan hamil di luar nikah, tertanam kokoh di benaknya. "Yang keren itu yang teguh prinsip, Najma. Bukan yang ikut-ikutan hawa nafsu," begitu pesan Ayah yang selalu ia ingat.Sore ini, tepat di hari ulang tahun Hani, drama itu mencapai puncaknya.Bel pulang berbunyi. Semua bergegas ke gerbang. Najma melihat kerumunan sudah terbentuk. Ada Yudi dan Hani. Yudi berdiri gagah di depan gerbang, memegang kotak kado kecil yang ia berikan dengan gaya sok romantis. Mereka berdiam di sana, menghalangi jalan, sementara puluhan anak lain harus menumpuk di belakang, mengamati adegan yang menjijikkan itu.Tawa kecil dan bisikan memuji terdengar di antara kerumunan. Mereka menganggap pasangan itu keren, berani, dan goals.Najma yang baru saja keluar dari kelasnya, langsung melihat pemandangan itu. Perutnya terasa mual. Bukan iri, tapi rasa muak yang tak tertahankan. Mengapa mereka harus mengotori martabat sekolah yang menjunjung tinggi agama dengan aksi pamer seperti itu? Mengapa mereka tidak mengerti bahwa harga diri jauh lebih berharga daripada likes dari teman sebaya?Ia melihat gerbang yang tersempit karena Yudi dan Hani masih asyik dengan drama mereka. Anak-anak lain menunggu dengan sabar.Tiba-tiba, Najma mengambil ancang-ancang. Ia tidak akan diam dan menunggu.Dengan langkah kaki yang mantap dan tatapan lurus, Najma bergerak cepat. Ia tidak peduli dengan Yudi yang mendadak menoleh kaget, atau Hani yang terperangah. Najma langsung menerobos masuk ke celah sempit di samping mereka, melewati kerumunan yang menahan napas."Permisi!" ujar Najma tegas, suaranya sedikit meninggi.Ia bergerak cepat, seolah sedang melakukan sprint menuju kebebasan, meninggalkan pasangan itu di belakangnya. Aksi Najma yang tiba-tiba dan tanpa basa-basi itu membuat beberapa anak kaget, namun secara aneh, kerumunan yang tadi terpaku kini mulai buyar.Beberapa siswa yang sedari tadi enggan menonton, kini seperti tersadar. Mereka segera mengikuti jejak Najma. Satu per satu, mereka bergegas keluar dari gerbang, meninggalkan Yudi dan Hani yang kini terlihat canggung, perhatian teman-teman mereka teralih.Najma berjalan tanpa menoleh ke belakang. Ia menarik napas lega. Ia tahu tindakannya kecil, tapi ia telah menunjukkan sikapnya: ia menolak untuk memuji atau bahkan sekadar menjadi penonton bagi perbuatan yang ia yakini salah.Di SMP Islam Al-Falah ini, yang seharusnya keren itu bukan yang berani pacaran dan melanggar aturan. Yang keren itu adalah Najma, yang punya prinsip baja, yang tahu bahwa masa depan dan ilmu jauh lebih penting daripada drama cinta monyet yang memalukan. Yang keren adalah yang tekun belajar, dan tidak menjadikan kehinaan sebagai kebanggaan. Ia adalah murid yang benar-benar percaya diri karena tahu harga dirinya di hadapan Allah.Dan hari itu, Najma pulang dengan perasaan menang, karena ia telah memilih menjadi berbeda dan lebih baik.***Najma yang baru saja menyelesaikan makan malamnya, membuka aplikasi belajar di ponselnya. Namun, fokusnya buyar ketika notifikasi dari grup kelas 9 berbunyi bertubi-tubi. Dengan rasa penasaran bercampur kekhawatiran, ia membuka grup itu. Sebuah tangkapan layar dari akun media sosial lokal diposting. Jantung Najma berdebar, ia mengenali adegan di sana: Yudi dan Hani di gerbang sekolah. Sambil menggelengkan kepala, ia membaca caption yang penuh pujian buta itu. 'The Real Couple Goals Al-Falah!' — sebuah kehinaan yang kini dipamerkan secara publik. Keesokan paginya, kehebohan di media sosial itu telah sampai ke telinga dewan guru.***Benar saja. Drama ulang tahun di gerbang sekolah itu tidak hanya disaksikan secara langsung. Salah seorang murid yang kepo dan menganggap adegan itu 'goals' dengan cekatan merekamnya dari balik kerumunan, mengambil sudut pandang terbaik saat Yudi menyerahkan kado dan Hani tersipu malu. Malam harinya, klip pendek itu sudah diunggah ke berbagai media sosial—termasuk akun 'info pelajar' lokal—lengkap dengan caption menjijikkan: "Happy Bday Cewekku Tercinta! The Real Couple Goals Al-Falah! Semoga langgeng sampe kakek-nenek! ❤️"Keesokan harinya, video itu viral di kalangan siswa SMP Islam Al-Falah dan beberapa alumni.Di ruang guru yang sepi, Pak Robi, guru Akidah Akhlak yang dikenal sangat menjunjung tinggi integritas sekolah, sedang memeriksa ponselnya sebelum memulai pelajaran. Seketika, matanya memicing. Postingan yang muncul di laman eksplorasinya membuat darahnya mendidih. Ia melihat jelas seragam putih-biru, gerbang sekolah, dan dua wajah yang sangat ia kenal: Yudi dan Hani.Ia menghela napas panjang, meremas ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Wajahnya menggeleng pelan, penuh kekecewaan."Ya Allah, apa yang terjadi dengan anak-anak ini?" bisiknya. "Kehinaan kok dibanggakan."Tanpa membuang waktu, Pak Robi beranjak. Ia tidak menuju kelasnya, melainkan langsung menuju kelas yang sedang kosong, yaitu kelas 9, sebelum jam pelajaran pertamanya dimulai. Ia berdiri di depan papan tulis, menunggu siswa-siswi masuk.Saat semua murid—termasuk Najma dan teman-temannya—sudah duduk rapi, Pak Robi memulai pelajaran tanpa sapaan formal. Tatapannya tajam, menyapu wajah setiap murid.📢 Ceramah Pak Robi: Manusia atau Binatang?"Saya tidak akan mengajar materi hari ini," ujar Pak Robi, suaranya berat dan berwibawa, membuat suasana kelas mendadak hening total. Ia menunjuk ponselnya yang tergeletak di meja guru."Saya baru saja melihat sesuatu di media sosial. Sesuatu yang memalukan. Sesuatu yang menghinakan nama baik SMP Islam Al-Falah ini. Dan anehnya, banyak dari kalian yang menganggapnya keren."Pak Robi menarik napas dalam-dalam."Kalian pikir itu keren? Tidak sama sekali! Itu kehinaan buat sekolah kita. Sekolah kita ini sekolah Islam, harusnya menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman, bukannya malah menjunjung tinggi nilai-nilai perbuatan tidak bermoral."Najma yang duduk di barisan tengah, mendengarkan dengan seksama. Ia tahu betul siapa yang sedang Pak Robi bicarakan, dan ia merasa lega karena ada guru yang berani bersuara sejelas ini."Pacaran, yang sepertinya kalian banggakan, itu jalan menuju zina. Suka kepada lawan jenis itu memang perasaan alami, wajar ada pada kalian, tapi kalian pun harus ingat, dan saya pernah beberapa kali mengingatkan, itu harus di dalam ikatan nikah! Kalau semasih sekolah sudah pacaran, dekat-dekatan, sentuh-sentuhan, itu ke sananya pasti zina."Pak Robi berjalan perlahan di antara deretan bangku, matanya kini menatap penuh harap."Kalian tahu kan beberapa waktu lalu ada yang mencemarkan nama baik sekolah kita? Masih kelas 8 sudah hamil. Kalian mau itu terjadi lagi? Kalian mau? Ya kalau gak mau, jangan ada pacaaran! Jangan dukung orang pacaran! Kalau kalian dukung, berarti kalian mau menghancurkan sekolah ini!"Beberapa murid menunduk, saling lirik, merasa tersindir."Rasa suka laki-laki kepada perempuan, perempuan kepada laki-laki itu wajar, itu naluri bawaan makhluk hidup yang ingin berkembang biak. Seperti binatang, kalau mau berkembang biak kan mendekati betinanya, yang betina didekatin diam saja. Itu terjadi karena ingin berkembang biak. Sama juga kalian yang mendekati lawan jenis itu karena pada diri kalian ada keinginan untuk berkembang biak."Pak Robi berhenti di depan Najma, tapi matanya melihat ke seluruh ruangan."Tapi kalian kan manusia, bukan binatang. Kalau binatang itu ya tidak ada penahan. Tidak ada akal sempurna. Dia lihat betina ya deketin saja. Beda dengan kalian, punya rasa malu, punya rasa takut dosa, karena kalian manusia. Kalau kalian sudah tidak punya rasa takut dosa, tidak punya rasa malu, ya berarti sama saja dengan binatang, sama dengan monyet, sama dengan babi!"Suara Pak Robi meninggi."Jadi kalau kalian melihat di antara teman kalian mulai pendekatan, itu sebenarnya karena dalam dirinya sudah ada keinginan berkembang biak! Ada anak kelas 9 masuk ke kelas 8, mendekati dan memeluknya, itu karena dia sudah ingin berkembang biak. Gimana, sudah ingin berkembang biak? Bukan ini tempatnya. Kalau mau berkembang biak tidak usah sekolah, cukup di rumah. Seperti kambing, tak usah sekolah, soal berkembang biak pun mereka bisa."Pak Robi menatap tegas, seolah menuntut jawaban dari setiap pasang mata."Kalian sekolah biar level kalian naik, biar lebih tinggi dari binatang, biar tidak sama dengan babi, biar tidak sama dengan kambing, biar kalian punya kecerdasan lebih, buat ngurus diri kalian, buat ngurus keluarga, masyarakat, gak gitu-gitu aja. Jaga harga diri kalian. Jaga harga diri sekolah ini!"
