PERJALANAN KE TITIK NOL
Oktober 24, 2025
0
BAB 1: Diary di Tempurung KepalaIzinkan aku mengkisahkan kemarau panjang yang pernah melanda harapanku. Saat kamu tak juga kutemukan setelah sekian lama, aku menulis pada sebuah diary lusuh di dalam tempurung kepala.Aku selalu membayangkan, diary ini adalah samudra. Dan setiap kata yang kutulis adalah botol berisi pesan, dilepaskan ke ombak waktu, berharap suatu hari ia akan terdampar di pantai yang tepat—pantai di mana kamu berdiri. Malam ini, di bawah lampu jalan yang berkelip seperti mata bintang yang ragu, aku sadar: botol-botol pesanku mungkin hanyut ke dasar laut kealpaan. Atau barangkali, kamu berada di benua yang salah, menatap langit yang tak pernah sama dengan langitku.Di sudut kafe tua tempat kita biasa berbagi cangkir kopi terakhir, aku duduk, membiarkan aroma pahit dan kenangan manis beradu di udara dingin. Sudah empat ratus delapan puluh satu hari berlalu sejak senja itu, senja yang tak pernah menemukan fajar. Kursi di hadapanku kosong, seperti juga sebagian besar ruang di dadaku. Kosong, dingin, dan dipenuhi gema janji yang perlahan memudar.Aku membuka buku bersampul cokelat yang sudah pudar warnanya, menjejalkan pena di antara halaman yang basah oleh air mata yang tak pernah kuseka. Ini bukan sekadar buku harian; ini adalah pemakaman bagi setiap harapan yang mati, sekaligus ruang inkubasi bagi satu-satunya harapan yang tak mau pergi. Aku tak menulis untuk diingat, aku menulis agar aku tak lupa bagaimana rasanya mencintai, bahkan saat cinta itu hanya tinggal bayangan."Mereka bilang, cinta sejati akan menemukan jalannya," bisikku pada diriku sendiri, suaraku nyaris hilang ditelan bunyi mesin pembuat kopi. "Tapi bagaimana jika jalannya ditelan kabut, dan aku tak punya kompas selain detak jantung yang semakin lambat tanpamu?"Aku menutup buku itu, merasakan beratnya di tanganku. Beratnya sebuah pengakuan tanpa alamat. Beratnya mengetahui bahwa cinta adalah perjalanan, tetapi aku ditinggalkan di tengah persimpangan. Mereka bilang, rindu adalah kembalinya cinta. Tapi bagaimana jika rindu itu hanya berjalan sepi di lorong yang tak berujung? Harapanku kini adalah gurun pasir, kering dan terik. Aku mencoba menanam bunga di sana, menyiraminya dengan air mata masa lalu, tapi yang tumbuh hanyalah kaktus-kaktus kesepian, tajam dan dingin.Aku masih menunggu hujan. Bukan hujan biasa, tapi kamu. Kamu, yang seharusnya menjadi badai pemecah kemarau ini. Aku tahu ini bodoh. Tapi aku harus. Harus melacak kembali jejak janji itu, barangkali ada serpihan memori yang tertinggal, yang bisa kupungut untuk sekadar menghangatkan hatiku yang kian membeku.Malam semakin larut. Aku bangkit, meninggalkan kafe. Bayanganku memanjang di trotoar basah embun. Aku berjalan menuju persimpangan, tempat kita berjanji bertemu suatu senja yang tak pernah datang. Dan di sanalah aku berdiri, seorang pengembara di padang tandus, yang terus mencari oase, bahkan jika itu hanya fatamorgana yang tercipta dari kerinduan yang terlalu pekat. Kemarau ini bukan hanya mengeringkan tanah, tapi juga mengikis keyakinanku. Namun, aku akan terus berjalan.Sebab aku tahu, entah di mana, botol pesanku pasti sedang berlayar menuju pantai. Aku hanya perlu memastikan aku masih punya cukup cahaya untuk melihatnya saat ia datang.
BAB 2
Kaktus-Kaktus KesepianSetiap pagi, aku bangun dengan harapan yang sama: bahwa kemarau ini telah usai. Namun, jendela kamarku selalu menyajikan pemandangan langit yang sama—biru pucat, tanpa janji awan, tanpa pertanda badai yang kuinginkan.Ritualku tak pernah berubah. Memanggang roti yang selalu terasa hambar, menyeduh teh yang gagal menghangatkan. Lalu, aku akan duduk di tepi jendela, menatap taman kecil yang dulu kita rancang. Di sanalah, di petak kecil tanah yang kering, kaktus-kaktus kesepianku tumbuh. Kaktus yang tajam, dingin, dan ironisnya, sangat pandai menyimpan air. Air yang seharusnya kuberikan padamu, kini tersimpan rapat di dalam duri pertahananku."Kau harus berhenti menyiksa dirimu," suara itu datang dari belakangku, lembut namun tegas.Ia adalah pemilik rumah kontrakan di sebelahku, seorang wanita paruh baya dengan mata sehangat matahari sore dan senyum secerah mentari pagi. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyum tipis, senyum yang terasa berat, seperti beban air mata yang tertahan."Aku tidak menyiksa diri, Nyonya Tua," ujarku, berusaha terdengar ringan. "Aku hanya sedang mengawasi bunga-bunga kaktusku tumbuh.""Kaktus tumbuh di gurun karena tidak ada pilihan lain," balasnya sambil meletakkan sepiring kecil kue di meja. "Kau tidak di gurun. Dunia masih berputar. Kau punya pilihan untuk menanam mawar, bunga matahari, atau bahkan melupakan menanam sama sekali."Aku tahu ia benar. Dunia kerjaku, tempat aku menghabiskan delapan jam sehari untuk menyusun angka dan memilah data, adalah pelarian yang sempurna. Di sana, aku adalah profesional yang efisien, logis, dan tak tersentuh emosi. Tapi begitu jam kerja berakhir, begitu aku kembali ke pintu rumah ini, kebohongan itu runtuh. Aku kembali menjadi diriku yang sebenarnya: seseorang yang hatinya masih menunggu surat tanpa prangko.Suatu sore, aku memutuskan untuk berani. Aku mengambil kunci mobil dan berkendara tanpa tujuan, hingga aku sampai di Jembatan Penantian. Begitu kami menyebutnya. Itu adalah jembatan tua di atas sungai kecil yang membelah pinggiran kota. Tempat di mana, enam tahun lalu, kita mengukir inisial di pagar kayu.Tanganku meraba ukiran yang kini ditutupi lumut tipis. Inisialku dan inisialmu. Awalnya, inisial itu terasa seperti janji. Kini, ia terasa seperti prasasti. Aku bersandar di pagar, membiarkan angin sungai menyapu wajahku.Kemarau ini bukan hanya tentang ketidakhadiranmu. Ini tentang keheninganmu. Keheningan yang lebih menyakitkan daripada perpisahan yang diucapkan. Aku bisa menerima jika kau pergi karena pilihan, tapi aku tak sanggup menanggung jika kau hilang karena kealpaan."Jangan pernah mencari serpihan di tempat yang seharusnya kau tinggalkan," sebuah suara batin memperingatkanku.Namun, di antara kaktus-kaktus kesepian di hatiku, ada satu bunga kecil yang menolak layu: keyakinan. Aku harus melacak kembali jejak janji itu. Aku harus mencari bukti bahwa botol pesanku masih memiliki arah. Aku harus memastikan bahwa kemarau ini hanya musim yang sedang berlangsung, bukan akhir dari kisah.Aku kembali ke rumah malam itu, dengan secercah keberanian baru. Aku membuka diary lusuhku. Kali ini, aku tak menulis tentang keputusasaan. Aku menulis tentang keputusan:Aku akan berhenti menunggu di persimpangan. Aku akan mulai berjalan di jalan yang dulu kita janjikan, dan melihat ke mana ia membawaku.Karena jika samudra ini terlalu luas untuk pesan di dalam botol, mungkin aku harus menjadi perahu itu sendiri.
BAB 3
Kompas dari Kertas UsangSetelah keputusan itu tertulis—di bawah penerangan rembulan yang sinis dan lampu tidur yang remang—ada perubahan halus dalam diriku. Bukan semacam ledakan semangat, melainkan sebuah denyutan kecil, seperti embun yang menetes perlahan ke akar kaktus yang haus. Aku tidak lagi menunggu hujan; aku mulai belajar bagaimana hidup di bawah terik mentari.Tujuanku yang pertama adalah sebuah toko buku antik. Bukan untuk membeli, melainkan untuk menjual. Aku harus menukar sebagian barang lama dengan peta baru, baik literal maupun metaforis. Toko itu milik seorang pria tua dengan kacamata tebal yang selalu menyambutku dengan senyum damai, seolah ia adalah penjaga waktu yang tersisa di kota ini."Kau terlihat berbeda hari ini," sapanya, matanya yang bijak menatapku dari balik tumpukan novel bersampul kulit. "Ada energi yang bergerak, seperti arus sungai setelah banjir.""Aku hanya ingin mengurangi beban, Paman," kataku, sambil meletakkan beberapa buku dan album foto lama. Semua yang kutinggalkan adalah benda-benda yang terkait dengan kenangan, kecuali satu. Aku menggenggam erat diary lusuhku.Paman Tua itu mengambil album foto, membolak-baliknya sekilas. "Melepaskan kenangan adalah seperti menanggalkan pakaian musim dingin. Kau mungkin akan merasa dingin sebentar, tapi kau akan menyambut musim semi lebih ringan.""Tapi bagaimana jika kenangan itu adalah satu-satunya yang tersisa dari seseorang?" tanyaku, suaraku tercekat.Ia menatapku lurus, seolah ia membaca setiap kata yang pernah kutulis di tempurung kepala. "Kenangan itu tidak ada di foto, Nak. Ia ada di sini," katanya, menunjuk dadaku. "Jika kau membiarkannya terkunci di kertas, ia akan membusuk. Jika kau membawanya dalam perjalanan, ia akan menjadi kompas."Kata-katanya menusuk, tetapi tidak menyakitkan. Aku kembali ke rumah dengan uang yang tak seberapa, tetapi dengan sebuah kesadaran yang bernilai tak terhingga. Diary lusuh ini bukan tempat untuk menenggelamkan pesan, melainkan panduan untuk mencari pelabuhan.Malam harinya, aku membuka buku itu, mencari halaman-halaman yang penuh dengan detail tentangmu. Bukan detail tentang cintamu padaku, melainkan tentang dirimu.Tanggal 14 Mei: Kamu pernah berjanji akan mengunjungi museum astronomi kecil di kota lain. Tanggal 21 Agustus: Kamu bercerita tentang keinginanmu menulis artikel tentang pembuat keramik kuno di daerah perbukitan. Tanggal 3 Januari: Kamu bilang, jika suatu hari kita terpisah, aku akan menemukanmu di tempat yang sunyi, di mana langit terasa paling dekat.Semua itu adalah serpihan peta. Bukan peta menuju "Aku" di masa lalu, melainkan peta menuju "Kamu" di masa kini.Aku mengambil peta fisik kotaku, dan dengan pena, aku mulai melingkari lokasi-lokasi itu. Tidak masuk akal? Tentu saja. Tapi bukankah kemarau yang kulalui ini juga tidak masuk akal? Cinta sejati, setidaknya yang kurasakan, adalah upaya yang melampaui nalar.Aku mengepak tas ransel, hanya berisi pakaian secukupnya, kamera usang, dan tentu saja, diary lusuh yang kini berubah fungsi menjadi log book. Aku tidak pergi untuk mencarimu secara membabi buta. Aku pergi untuk menapaki jalan yang pernah kau inginkan, berharap bahwa di salah satu persimpangan impianmu, jalan kita akan bertemu kembali.Di ambang pintu, aku menoleh ke arah Nyonya Tua yang kebetulan sedang menyiram kaktusnya."Aku pergi untuk menanam bunga matahari," kataku, tersenyum lebih lebar dari biasanya.Ia tersenyum, senyum penuh tahu. "Selamat jalan, Nak. Hati-hati dengan badai. Kau mungkin akan menemukannya di tempat yang tak terduga."Aku mengangguk. Aku tahu, badai pemecah kemarau itu mungkin ada di depan sana. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak lagi takut basah. Aku hanya ingin merasakan derasnya, entah itu air mata atau hujan yang dinanti.
BAB 4: Awan di Jendela KeretaPerjalanan dimulai. Kereta meluncur pelan, membelah hamparan sawah dan perbukitan yang perlahan menjauh dari keramaian kota. Setiap putaran roda terasa seperti detak jarum jam yang baru saja dihidupkan kembali setelah lama mati. Aku duduk di dekat jendela, menatap refleksi diriku yang kini terlihat sedikit asing—lebih bersemangat, namun masih diselimuti lapisan melankolis yang tipis.Tujuan pertamaku adalah kota yang menyimpan museum astronomi kecil yang pernah kau sebut. Kota yang kau gambarkan memiliki "langit terdekat" dengan bumi. Ini adalah pencarian yang bodoh, aku tahu. Mungkin kau hanya mengatakannya dalam sebuah candaan saat kita merencanakan masa depan yang tidak pernah terwujud. Tapi bagi Aku, janji kecil itu kini menjadi bintang penunjuk arah.Di bangku seberang, duduklah seorang pria paruh baya. Rambutnya beruban, tetapi matanya penuh dengan kehidupan dan keingintahuan. Ia sibuk menggoreskan pensil pada buku sketsanya, sesekali mengangkat kepala untuk menatap pemandangan yang lewat. Pakaiannya sederhana, dihiasi noda cat kering yang artistik.Setelah beberapa jam dalam keheningan yang nyaman, ia menutup buku sketsanya dan menoleh padaku."Kau sedang mencari sesuatu, bukan?" tanyanya, suaranya serak dan hangat.Aku terkejut. "Apa yang membuat Anda berpikir begitu?""Caramu menatap cakrawala," jawabnya sambil tersenyum tipis. "Bukan melihat apa yang ada, tetapi mencari siapa yang seharusnya ada di sana. Ada jarak dalam tatapanmu."Aku merasa telanjang. Orang asing ini, dalam sekejap, berhasil membaca halaman-halaman yang selama ini kusimpan di tempurung kepala. Aku memutuskan untuk jujur."Aku mencari jejak janji yang tertunda," kataku. "Sebuah tempat yang pernah dijanjikan oleh seseorang yang kini hilang tanpa kabar.""Ah, janji," ia mengangguk-angguk. "Janji itu seperti awan. Kadang ia terlihat jelas dan penuh harapan, kadang ia berubah bentuk, dan kadang... ia hanya menguap. Kau harus belajar mencintai langit, terlepas dari ada atau tidaknya awan itu."Ia memperkenalkan dirinya sebagai seorang pelukis lanskap, yang kini sedang dalam perjalanan mencari inspirasi baru. Ia bilang, ia sudah melukis ribuan matahari terbit dan terbenam, tetapi yang paling menantinya adalah warna yang belum pernah ia lihat."Kau terlalu fokus pada objek yang hilang," katanya, kembali pada topikku. "Kau terus menggoreskan warna hitam dan abu-abu di kanvas hatimu. Bagaimana jika kau mencoba melukis warna-warna yang ada di sekitarmu sekarang?"Ia mengambil kembali buku sketsanya, membuka sebuah halaman yang menampilkan sketsa jembatan yang kokoh, tetapi tanpa orang."Aku melihatmu tadi. Kau menggenggam buku itu erat-erat," katanya, menunjuk ke diary lusuhku. "Jangan jadikan buku itu penjara untuk harapanmu. Jadikan ia kanvas untuk cerita barumu. Tulislah tentang kota yang kau lihat sekarang, tentang teh yang kau minum, tentang pohon yang dilewati kereta. Ceritakan dirimu yang sedang melakukan perjalanan ini."Kata-katanya seperti tiupan angin yang mengubah arah layar. Aku selalu menulis untuk Kamu. Aku selalu berharap Kamu membacanya. Tetapi ia benar, jika aku terus menulis tentang kehilangan, aku akan kehilangan diriku sendiri.Aku menarik napas panjang. Untuk pertama kalinya, bau debu dan uap kereta terasa nyata, bukan sekadar latar belakang penantianku. Aku mengambil pena, membuka halaman baru di diary lusuh itu.Di sana, aku tidak menulis tentang dirimu. Aku menulis tentang langit yang kini terlihat dari jendela kereta, tentang pelukis dengan mata bijak di seberangku, dan tentang Aku, yang sedang bergerak, bukan lagi terdiam.Ini bukan akhir dari pencarianku. Tapi ini adalah awal dari pergeseran. Aku tidak lagi mencari dirimu di masa lalu. Aku mencari diriku yang baru, di masa kini. Dan mungkin, hanya dengan cara itulah, botol pesanku akan berlabuh di pantai yang benar.
BAB 5
Jejak di Bawah Langit TerdekatKota ini terasa seperti desahan panjang. Tenang, sejuk, dan asing. Aku turun dari kereta, merasakan udara pegunungan yang tipis menusuk paru-paru. Pelukis itu sudah mengucapkan selamat jalan dengan senyum misteriusnya, meninggalkan sepenggal kalimat: "Nikmati setiap tarikan napasmu. Itu adalah seni yang sebenarnya."Aku berdiri di stasiun yang sepi, melihat sekeliling. Tidak ada yang familier. Tidak ada bayanganmu, tidak ada aroma kopi yang mengingatkanku pada pertemuan terakhir. Yang ada hanyalah papan penunjuk arah menuju Museum Astronomi, tujuan pertamaku, yang terletak di puncak bukit.Aku memutuskan untuk berjalan. Setiap langkah di jalan berbatu ini terasa berat, karena setiap pijakan adalah konfrontasi antara harapan dan kenyataan. Harapan berkata, "Dia pasti ada di sana, menunggumu di bawah kubah bintang." Kenyataan berbisik, "Kau hanya seorang turis yang memburu hantu janji."Museum itu kecil, terawat, dan sunyi. Seorang penjaga tua menyambutku. Aku membayar tiket, dan saat aku memasuki aula utama yang dingin, hatiku berdesir. Ini dia. Tempat yang pernah kau impikan. Kau pernah berkata, di bawah bintang-bintang buatan ini, kita bisa merancang takdir kita sendiri.Aku menjelajahi ruangan demi ruangan. Kubah besar di atas kepalaku memancarkan rasi bintang yang indah dan damai. Aku mencari, bukan artefak, tapi sebuah petunjuk. Sebuah coretan di buku tamu, sebuah nama yang tertulis di balik meja. Sia-sia. Tidak ada jejak.Kekalahan menyergapku, dingin dan tajam seperti angin malam di puncak bukit. Kemarau kembali terasa mendominasi. Apa yang kulakukan di sini? Aku mempertaruhkan sisa-sisa kewarasanku hanya untuk mengejar fatamorgana yang kau ciptakan.Aku duduk di bangku kayu dekat jendela, membiarkan diriku tenggelam dalam keputusasaan. Kemudian, aku teringat nasihat sang pelukis. Jangan fokus pada objek yang hilang. Lukis warna di sekitarmu.Aku mengeluarkan kamera usangku. Aku mulai memotret. Bukan untuk mendokumentasikan pencarianku, tapi untuk merekam keindahan yang aku saksikan saat ini: debu emas yang menari di cahaya yang masuk dari jendela, detail ukiran kuno di dinding, bayangan rasi bintang yang jatuh di lantai kayu.Aku memotret langit buatan itu, dan saat aku menatap kembali melalui lensa, aku melihat keindahan kosmik yang luar biasa. Aku sadar, aku datang ke sini untuk menemukan Kamu, tetapi aku malah menemukan keajaiban yang dulu pernah kau ingin aku lihat.Aku mengeluarkan diary lusuhku. Aku menulis, kali ini tanpa rasa terdesak oleh rindu:...Hari ke-483. Kota Langit Terdekat. Aku tidak menemukanmu. Aku tidak menemukan petunjuk. Tapi aku menemukan mengapa tempat ini penting bagimu. Karena di sini, di bawah kubah ini, segala sesuatu terasa mungkin. Jarak antara bintang-bintang tidak lagi terasa jauh. Mungkin, jarak antara kita juga hanya ilusi yang diciptakan oleh waktu.Aku tidak akan menghapus janji ini dari daftarku. Aku hanya akan memindahkannya. Janji ini bukan tentang bertemu di sini; janji ini tentang melihat keindahan. Dan aku telah melakukannya.Selesai menulis, aku menutup buku itu, merasakan beratnya kini berbeda. Bukan berat harapan yang terkubur, melainkan berat tekad yang baru terbentuk.Saat aku melangkah keluar, penjaga tua itu memanggilku. Ia memberiku selembar kertas tua."Seseorang meninggalkan ini beberapa waktu lalu," katanya. "Katanya, hanya untuk seseorang yang 'benar-benar melihat bintang'."Jantungku berdebar tak karuan. Itu tulisan tanganmu. Bukan sebuah surat, melainkan kutipan puisi pendek yang selalu kau sukai."Jejak kita ada di setiap tempat yang kita singgahi, tetapi hanya yang berjalan sendirilah yang akan menemukannya dengan mata terbuka."Itu bukan alamat. Itu bukan ajakan kembali. Itu adalah restu. Kau merestui perjalananku. Kau merestui aku untuk berjalan sendiri.Aku tersenyum, senyum yang tulus, tanpa air mata melankolis. Kemarau belum usai, tetapi embun mulai turun. Aku tahu ke mana aku harus pergi selanjutnya: ke perbukitan, mencari pembuat keramik kuno. Aku tidak lagi mencari kamu; aku mencari diriku melalui jejak impianmu.
BAB 6
Suara di Ujung TeleponPerbukitan terasa kontras dengan kesunyian kosmik kota sebelumnya. Jalanan berkelok, udaranya berbau tanah basah dan kayu. Aku tiba di sebuah desa kecil yang terkenal dengan tradisi keramik kunonya—tujuan kedua yang kuambil dari halaman lusuh diary-ku.Kali ini, aku tidak mencari jejak fisik. Aku mencari kisah. Aku mencari alasan mengapa tempat ini begitu penting bagimu hingga kau ingin menuliskannya.Aku menemukan sebuah bengkel keramik tua, di mana seorang perajin wanita dengan tangan penuh lumpur bekerja dengan tenang. Ia adalah sosok yang sabar, yang membentuk tanah liat dengan gerakan yang penuh makna. Aku duduk di sudut, mengamati, dan membiarkan kesunyian berbicara.Di tengah keheningan yang meditasi, ponselku bergetar. Sebuah panggilan dari kota lama. Itu adalah dia, rekan kerjaku sekaligus sahabatku yang paling rasional."Kau ada di mana?" suaranya di ujung sana terdengar frustrasi. "Aku sudah mencoba menghubungimu sejak kemarin. Kau menghilang seperti ditiup angin.""Aku sedang dalam perjalanan," jawabku, suaraku terdengar jauh lebih tenang daripada yang kuharapkan."Perjalanan apa? Perjalanan mencari hantu masa lalu? Dengarkan aku, sudah hampir lima ratus hari! Kau harus berhenti. Berhenti menipu dirimu dengan jejak-jejak kecil yang tidak berarti. Dia sudah pergi!"Pernyataannya menusuk tajam, tetapi anehnya, tidak membuatku roboh. Dulu, kata-kata itu akan membuatku menangis. Sekarang, aku hanya merasakan getaran samar di hatiku."Aku tahu berapa lama waktu berlalu," balasku. "Tapi aku tidak lagi mencarinya, aku mencari kenapa. Aku mencari diriku yang baru, di tempat-tempat yang pernah penting bagi kami berdua.""Itu hanya pembenaran, Sayang. Kau menggali lubang yang lebih dalam. Aku khawatir kau akan benar-benar terperosok ke dalam fantasi."Aku memandang perajin wanita di depanku. Tangannya basah oleh tanah liat, tetapi matanya memancarkan kedamaian. Aku teringat kata-kata pelukis di kereta: Kau terlalu fokus pada objek yang hilang."Aku tidak sedang menggali lubang," kataku pelan, tetapi tegas. "Aku sedang merangkai mozaik. Setiap tempat yang kukunjungi, setiap orang yang kutemui, adalah bagian kecil yang membantuku memahami mengapa aku mencintai seseorang yang memiliki impian seperti ini. Dan dengan memahami impiannya, aku menemukan kekuatan untuk mewujudkan impianku sendiri."Ada keheningan di ujung telepon. Sahabatku tahu aku tidak sedang berbohong; aku hanya sedang melihat kenyataan dari sudut pandang yang berbeda."Pulanglah sebelum kau benar-benar beku," katanya, suaranya melembut, menyerah. "Aku akan selalu menunggumu kembali ke dunia nyata."Aku mengakhiri panggilan. Aku tahu ia peduli, tetapi ia melihat situasiku sebagai kesedihan yang harus dihentikan, sementara aku melihatnya sebagai proses penyembuhan yang harus dijalani hingga tuntas.Aku mendekati perajin itu. Aku mulai bertanya tentang filosofi di balik keramik kuno. Ia menjelaskan bahwa tanah liat harus melewati api paling panas untuk menjadi kuat."Proses ini mengajarkan kesabaran, Nona," katanya, tangannya tetap bekerja. "Ia mengajarkan bahwa hal yang paling rapuh—seperti gumpalan tanah—bisa menjadi yang paling abadi, jika ia berani melalui panas. Ia harus menerima kerapuhannya untuk menemukan kekuatannya."Saat itu juga, aku menyadari mengapa kau mencintai kerajinan ini. Kau ingin menjadi seperti keramik itu—mampu menghadapi api terpanas takdir.Aku mengeluarkan diary lusuhku. Aku menuliskan pengakuan:Aku adalah gumpalan tanah liat yang sedang melewati api. Dan panas kemarau ini adalah yang membentukku.Aku tidak menemukanmu di museum bintang. Aku tidak menemukanmu di bengkel keramik ini. Tetapi aku menemukan makna di balik jejakmu. Dan makna itu lebih berharga daripada kehadiranmu yang hampa. Aku tidak lagi merasa sebagai botol pesan yang terombang-ambing. Aku merasa seperti tanah liat yang sedang dipersiapkan untuk menjadi sesuatu yang abadi.Perjalanan ini, aku sadar, telah mengubah fokus pencarian. Aku tidak lagi mencari sebab kau pergi, aku mencari alasan aku harus terus ada.
BAB 7: Awan yang Berubah ArahAku telah menjadi pohon jati terlalu lama, menunggu badai. Kini, aku ingin menjadi ilalang—fleksibel, merunduk, dan bergerak mengikuti ke mana pun angin kehidupan meniupku.Setelah panggilan dari sahabatku itu, dan setelah pemahaman baru tentang kekuatan dalam kerapuhan yang diajarkan perajin keramik, aku membuat keputusan radikal. Aku tidak akan kembali ke rutinitas lamaku. Aku tidak akan kembali ke kota yang penuh dengan hantu kenangan.Aku menjual rumah peninggalan keluarga yang selama ini menjadi museum pribadiku tentang dirimu. Uang itu bukan untuk kemewahan; itu adalah modal untuk kebebasan. Kebebasan untuk tidak lagi terikat pada geografis, pada pekerjaan, atau pada penantian yang statis. Aku memutuskan untuk pindah ke tepi pantai, di sebuah kota kecil yang tak pernah kita kunjungi. Tempat yang benar-benar baru, tanpa janji, tanpa jejak.Ini adalah oase yang kucari. Bukan oase yang kau sediakan, tetapi oase yang kubangun sendiri dari reruntuhan kemarau.Kota pantai itu sunyi, udara asinnya terasa membersihkan. Aku menyewa sebuah kamar di rumah kayu tua yang menghadap langsung ke lautan—samudra yang selama ini hanya kuanggap sebagai tempat hanyutnya botol pesan. Kini, samudra itu adalah jendela menuju cakrawala yang tak terbatas.Aku mencoba mencari pekerjaan, bukan di bidang angka-angka yang logis, melainkan di kedai kopi kecil dekat pelabuhan. Di sana, aku berinteraksi dengan orang-orang yang wajahnya membawa cerita garam, angin, dan petualangan. Mereka mengajarkan padaku bahwa hidup adalah pasang surut, dan yang terpenting bukanlah menunggu kapal datang, melainkan memastikan jangkar kita kuat saat ombak menghantam.Di sela-sela waktu kerjaku, aku duduk di tepi dermaga. Aku tidak lagi membawa diary lusuhku untuk menulis pesan rindu. Aku membawanya untuk menulis cerita. Aku mulai menuliskan semua perjalananku. Aku menulis tentang Nyonya Tua dengan kaktusnya, Pelukis di kereta, Perajin Keramik, dan bahkan sahabatku yang realistis. Aku mengubah kesedihanku menjadi narasi, menjadikannya bahan bakar.Suatu sore, saat matahari terbenam menyiram lautan dengan warna merah jambu keemasan, seorang pria duduk di bangku sebelahku. Ia mengenakan topi jerami, tangannya memegang sebuah buku tebal yang disampul kain lusuh—persis seperti diary-ku.Ia adalah seorang penulis, katanya, yang sedang mencari tempat untuk menyelesaikan naskah novelnya. Namanya tidak penting, ia hanya ingin disebut sebagai "Penjaga Kata.""Kau tahu, rindu itu bukan lawan dari melupakan," katanya tiba-tiba, menatap ke arah laut lepas. "Rindu itu kawan dari mengenang. Jika kau membiarkannya diam di dada, ia akan menjadi penyakit. Tapi jika kau mengolahnya menjadi kata, ia akan menjadi karya abadi."Aku tersentuh oleh ucapannya. Ia seolah adalah jawaban dari evolusi diary lusuhku. Aku menceritakan padanya tentang kemarau panjang yang kualami, tentang diary yang kuanggap samudra, dan tentang botol pesan yang tak pernah sampai.Ia mendengarkan dengan penuh perhatian. Setelah aku selesai, ia tersenyum, senyum seorang filsuf yang sudah melihat banyak ombak."Botol pesanmu itu tidak pernah hanyut ke dasar, Nak," katanya. "Ia hanya berlayar terlalu jauh hingga menemukan dirimu yang baru. Kini kau sudah di tepi laut, kau hanya perlu berenang ke arahnya.""Maksud Anda?""Kau terus menulis untuknya, padahal yang harus membaca pertama kali adalah dirimu sendiri. Kau telah melakukan itu. Sekarang, jangan biarkan tulisanmu menjadi rahasia di tempurung kepala. Terbitkan. Lepaskan cerita itu ke dunia. Biarkan dirimu menjadi badai pemecah kemarau bagi orang lain."Perkataannya mengguncangku. Menerbitkan diary lusuh ini? Membuka laci rahasia yang berisi kerapuhan dan penantian paling bodoh? Tapi, mungkin ia benar. Mungkin, dengan melepaskan cerita ini, aku benar-benar bisa melepaskan cengkeraman masa lalu.Aku menatap laut, di mana matahari hampir tenggelam sempurna, meninggalkan garis jingga yang membara. Aku tidak lagi merasa sebagai ilalang yang ditiup angin. Aku merasa seperti awan yang telah memilih arahnya sendiri. Aku akan menuliskan akhir dari kemarau panjang ini, dan mengakhirinya bukan dengan kedatanganmu, tetapi dengan kemenanganku atas penantian.Keesokan paginya, aku memulai. Aku merombak setiap halaman, mengubah setiap rintihan menjadi kekuatan, setiap kerinduan menjadi puisi. Aku mulai menulis dengan fokus baru: Ini bukan lagi diary untukmu. Ini adalah novel tentang aku.
BAB 8
Jejak di Benua Lain
Sekeping hati rapuh ini telah belajar bagaimana mencintai kembali dirinya sendiri. Di kedai kopi yang ramai dan bau laut yang segar, aku menghabiskan waktu berjam-jam, menyalin dan menyunting tulisan dari diary lusuh. Penjaga Kata sering duduk di meja seberang, menulis dalam keheningan, sesekali memberiku senyuman mengangguk—seolah ia adalah editor tak terlihat yang mengawasi proses metamorfosisku."Semua penulis hebat harus jatuh cinta pada cerita mereka sendiri sebelum mereka mengharapkan orang lain jatuh cinta," ujarnya suatu pagi, sambil menyeruput kopinya. "Jangan khawatir tentang akhir ceritanya. Biarkan saja mengalir."Aku semakin terbiasa dengan kehidupan baru ini. Aku tidak lagi memeriksa ponsel setiap jam. Aku tidak lagi menghindari persimpangan. Kemarau di hati perlahan berganti menjadi musim semi yang tenang. Aku tidak melupakanmu, tetapi rindu telah berubah dari belenggu menjadi melodi latar yang menenangkan.Suatu sore, aku sedang merapikan lemari di kamar sewa baruku. Di balik tumpukan kain lama, aku menemukan sebuah kotak kardus kecil yang ditinggalkan oleh penghuni sebelumnya. Kotak itu berisi tumpukan surat dan kartu pos yang sudah menguning, jelas bukan milikku.Aku awalnya berniat membuangnya, tetapi rasa ingin tahu menarikku untuk melihat isinya. Kartu-kartu pos itu berasal dari berbagai belahan dunia, semuanya ditulis dengan huruf sambung yang indah, dan ditujukan kepada nama yang tidak kukenal.Namun, di tengah tumpukan itu, selembar kartu pos yang tidak tertulis alamat menarik perhatianku. Gambar di depannya adalah foto sebuah menara jam kuno di sebuah kota Eropa yang tenang. Dan di baliknya, tulisan itu... tulisan tangan yang sangat kukenal.Bukan darimu. Tetapi, sebuah tulisan singkat, yang tak salah lagi, adalah guratan tanganmu.Isinya hanya satu kalimat: "Aku di tempat di mana jam tak lagi berputar, dan waktu berhenti."Tanggalnya sekitar enam bulan setelah kamu menghilang. Kartu pos itu tidak pernah dikirim; ia hanya disimpan. Mengapa kartu ini ada di sini? Di kamar sewa yang baru kukunjungi, di kota yang tak pernah kita datangi?Jantungku berdebar kencang, bukan karena rindu, melainkan karena keheranan. Ini adalah petunjuk. Sebuah serpihan kecil dari puzzle yang selama ini kuanggap telah hancur.Aku bergegas menemui Penjaga Kata. Aku menunjukkan padanya kartu pos itu, tanganku sedikit gemetar."Apakah Anda tahu ini menara jam di kota mana?" tanyaku penuh harap.Ia mengambil kartu pos itu, menatap menara jam itu lama sekali. "Aku pernah ke sana," katanya. "Itu adalah menara di kota pelabuhan kecil yang terkenal karena menjadi tempat transit para pelaut dan seniman. Kota yang sangat sunyi. Dulu, banyak orang di sana terdampar karena urusan yang tak terselesaikan.""Urusan yang tak terselesaikan..." Aku mengulangi."Ya. Mereka datang untuk menulis, mencari inspirasi, atau... mencari jawaban. Tapi, Nak," Penjaga Kata memandangku dengan sorot mata serius. "Mengapa kartu ini bisa ada di kamarmu? Di kota yang jauh dari menara itu?"Kami hanya bisa berspekulasi. Mungkin penghuni sebelumnya adalah orang yang kau kirimi kartu itu. Atau mungkin, tanpa sengaja, aku datang ke persimpangan yang sama sekali berbeda, yang secara tak terduga terhubung dengan masa lalumu.Aku membolak-balik kartu pos itu lagi, mengamati tulisanmu. Kata-kata itu kini tidak lagi terdengar putus asa. Kata-kata itu terdengar seperti... permohonan maaf. Sebuah penjelasan bahwa keheninganmu bukan karena kealpaan, melainkan karena sebuah keterbatasan waktu dan tempat.Petunjuk ini mengubah segalanya. Kemarau yang kulalui bukanlah sebuah pengkhianatan, tetapi sebuah ujian jarak. Kamu tidak lari; kamu tertahan.Aku kembali ke diary lusuhku. Aku menulis babak baru dari novelku. Aku menulis tentang penerimaan. Bahwa penantian itu valid. Bahwa cinta kami tidak sia-sia, hanya saja, ia harus melewati benua dan waktu yang berbeda.Petunjuk itu memang samar, tetapi ia telah menyelesaikan kerjanya: menghilangkan keraguan di hatiku.Aku kembali menemui Penjaga Kata, tersenyum dengan senyum yang akhirnya mencapai mata."Aku akan mencarinya," kataku. "Bukan untuk memaksanya kembali, tetapi untuk menutup babak penantian dengan sebuah pelukan."Penjaga Kata mengangguk. "Itu adalah akhir yang paling elegan, Nak. Kau telah menemukan dirimu. Sekarang, temukan sisa dari ceritamu."Aku mengepak tasku lagi. Kali ini, diary lusuh itu tidak berisi pertanyaan. Ia berisi peta. Peta menuju menara jam yang berhenti berputar, dan yang paling penting, peta menuju diriku yang siap untuk hujan.
BAB 8
Jejak di Benua Lain
Teruntuk harapan yang telah tumbuh menjadi pohon yang kokoh, bukan lagi sekadar bibit rapuh, aku merasa harus berterima kasih. Di kota pantai ini, di tengah aroma garam dan keramaian kedai kopi, aku telah menemukan diriku yang baru. Aku menghabiskan waktu berjam-jam, menyalin dan menyunting tulisan dari diary lusuh, mengubah setiap rintihan menjadi kekuatan, setiap kerinduan menjadi narasi yang mengalir. Penjaga Kata sering duduk di meja seberang, tersenyum—seolah ia adalah editor tak terlihat yang mengawasi proses metamorfosisku."Semua penulis hebat harus jatuh cinta pada cerita mereka sendiri sebelum mereka mengharapkan orang lain jatuh cinta," ujarnya suatu pagi, sambil menyeruput kopinya. "Kau telah melalui neraka. Kini, saatnya kau menulis epikmu."Aku kini terbiasa dengan kehidupan baruku. Aku tidak lagi menunggu. Aku hanya mengisi. Mengisi hari dengan tawa dari pelanggan kedai kopi, mengisi malam dengan kata-kata yang mengalir deras di halaman-halaman. Rindu telah berubah dari belenggu menjadi melodi latar yang menenangkan.Suatu sore, aku sedang merapikan lemari di kamar sewa baruku—sebuah kamar yang kubayangkan baru saja ditinggalkan. Di balik tumpukan kain lama, aku menemukan sebuah kotak kardus kecil yang ditinggalkan oleh penghuni sebelumnya. Kotak itu berisi tumpukan surat dan kartu pos yang sudah menguning, jelas bukan milikku.Aku awalnya berniat membuangnya, tetapi rasa ingin tahu menarikku untuk melihat isinya. Kartu-kartu pos itu berasal dari berbagai belahan dunia, semuanya ditulis dengan huruf sambung yang indah.Namun, di tengah tumpukan itu, selembar kartu pos yang tidak tertulis alamat tujuan menarik perhatianku. Gambar di depannya adalah foto sebuah menara jam kuno di sebuah kota Eropa yang tenang. Dan di baliknya, tulisan itu... tulisan tangan yang sangat kukenal, walau hanya terdiri dari satu kalimat singkat:"Aku di tempat di mana jam tak lagi berputar, dan waktu berhenti."Tanggalnya sekitar enam bulan setelah kamu menghilang. Kartu pos itu tidak pernah dikirim; ia hanya disimpan. Mengapa kartu ini ada di sini? Di kamar sewa yang baru kukunjungi, di kota yang tak pernah kita datangi? Rasanya seperti sepotong benang merah yang muncul dari alam mimpi.Jantungku berdebar kencang, bukan karena rindu, melainkan karena keheranan murni. Ini adalah petunjuk. Sebuah serpihan kecil dari puzzle yang selama ini kuanggap telah hancur.Aku bergegas menemui Penjaga Kata. Aku menunjukkan padanya kartu pos itu, tanganku sedikit gemetar."Aku pernah ke sana," katanya, menatap menara jam itu lama sekali. "Itu adalah menara di kota pelabuhan kecil yang terkenal karena menjadi tempat transit para pelaut dan seniman. Kota yang sangat sunyi. Dulu, banyak orang di sana terdampar karena urusan yang tak terselesaikan."Aku menatap tulisanmu lagi. Kata-kata itu kini tidak lagi terdengar putus asa. Kata-kata itu terdengar seperti sebuah penjelasan—bahwa keheninganmu bukan karena kealpaan, melainkan karena sebuah keterbatasan waktu dan tempat. Kemarau yang kulalui bukanlah sebuah pengkhianatan, tetapi sebuah ujian jarak.Aku kembali ke diary lusuhku. Aku menulis babak baru dari novelku. Aku menulis tentang penerimaan bahwa penantian itu valid. Bahwa cinta kami tidak sia-sia, hanya saja, ia harus melewati benua dan waktu yang berbeda.Petunjuk itu memang samar, tetapi ia telah menghilangkan keraguan di hatiku. Aku tidak lagi mencari sebab kau pergi, aku mencari tempat di mana aku bisa bertemu denganmu yang sudah melewati badai.Aku kembali menemui Penjaga Kata, tersenyum dengan senyum yang akhirnya mencapai mata."Aku akan mencarinya," kataku, tekadku tak tergoyahkan. "Bukan untuk memaksanya kembali, tetapi untuk menutup babak penantian dengan sebuah pelukan dan memastikan, aku tidak lagi berdiri di musim kemarau."Penjaga Kata mengangguk. "Itu adalah akhir yang paling elegan, Nak. Kau telah menemukan dirimu. Sekarang, temukan sisa dari ceritamu. Dan bawakan aku kabar tentang menara jam yang berhenti itu."Aku mengepak tasku lagi. Kali ini, diary lusuh itu tidak berisi pesan yang tak berbalas. Ia berisi peta. Peta menuju menara jam yang berhenti berputar, dan yang paling penting, peta menuju diriku yang siap untuk hujan. Aku siap. Aku sudah menjadi badai pemecah kemarau itu sendiri.
BAB 9
Perjalanan Menuju Nol Waktu
Gemericik air laut di tepi dermaga pagi itu terdengar seperti musik perpisahan yang manis. Aku sudah berkemas. Tas ranselku terasa ringan, tidak seperti dulu yang selalu terasa berat karena beban harapan. Kini, yang kubawa adalah diary lusuh yang telah bertransformasi menjadi naskah novel, dan satu-satunya kompas, kartu pos bergambar menara jam yang berhenti berputar.Penjaga Kata menungguku di kedai kopi. Ia memberiku bekal: bukan makanan, melainkan sebungkus kecil berisi daun teh langka dan sebuah buku catatan kosong."Teh ini untuk saat kau butuh ketenangan. Buku ini untuk saat kau ingin menuliskan kelanjutan cerita, bukan sekadar kenangan," katanya.Aku tersenyum. "Terima kasih. Anda telah menjadi mentor terbaik dalam kemarau panjang ini.""Aku hanya pengingat bahwa kata-kata memiliki kekuatan," balasnya, matanya yang bijak menatapku lurus. "Dengarkan baik-baik. Kau mencari 'Kamu' di tempat di mana waktu berhenti. Itu berarti kau memasuki titik nol, di mana masa lalu dan masa depan bertemu. Jangan bawa dendam atau penyesalan. Bawa saja dirimu yang sekarang—dirimu yang sudah belajar menjadi ilalang dan tanah liat yang kuat."Aku mengangguk, menyerap setiap kata. Kemarau yang kulalui bukan hanya menguji kesabaranku; ia menguji cintaku. Apakah aku mencintai bayanganmu, ataukah aku mencintai dirimu yang utuh, dengan segala misteri dan kelemahanmu?Perjalanan menuju kota asing dengan menara jam itu adalah perjalanan terpanjangku, melintasi benua dan zona waktu. Aku naik kapal, kereta, dan bus. Aku menghabiskan waktu berjam-jam menatap peta, mencoba menafsirkan arti dari kota yang 'sunyi' dan 'tempat orang terdampar karena urusan yang tak terselesaikan.'Selama perjalanan, aku mulai merenungkan kembali kisah kami. Aku menyadari bahwa aku selalu melihat diriku sebagai korban dari kepergianmu. Sekarang, aku melihatnya sebagai pembebasan—pembebasan yang mendorongku untuk menemukan jati diri tanpa bergantung pada kehadiranmu.Di tengah penerbangan yang sunyi, aku membuka diary lusuh itu, di mana kalimat pertama kuukir: "Aku menulis pada sebuah diary lusuh di tempurung kepala."Aku kini menulis di buku catatan baru yang diberikan Penjaga Kata. Aku menuliskan sebuah resolusi:Jika aku menemukanmu di sana, aku akan mendengarkan. Aku tidak akan menuntut. Aku tidak akan meminta balasan. Aku hanya akan menawarkan diriku yang sekarang, yang utuh dan tidak lagi kering.Pesawat mendarat di kota transit. Aku merasakan perubahan suhu dan bahasa. Kota itu terasa tua, dipenuhi arsitektur batu dan kisah-kisah masa lalu. Aku tidak lagi merasa takut tersesat. Setiap jalanan yang asing adalah halaman baru yang harus kubaca.Akhirnya, setelah perjalanan yang terasa seperti berminggu-minggu, aku tiba di kota pelabuhan yang ditunjuk oleh kartu pos itu. Dingin dan berkabut. Kota itu benar-benar sunyi, diselimuti aura kesendirian yang artistik.Aku berjalan menyusuri gang-gang sempit, mencari menara jam yang ada di kartu pos. Aku menemukannya di alun-alun kecil, tertutup lumut tua, dengan jarum jam yang benar-benar berhenti—tepat pada pukul 12:00. Nol waktu.Aku berdiri di bawah menara itu, jantungku berdegup kencang, menahan napas. Aku telah tiba di persimpangan terakhir. Aku telah memenuhi jejak janji itu, bukan sebagai penantian, melainkan sebagai penjelajahan.Aku melihat sekeliling. Tidak ada siapa-siapa, kecuali aku dan jarum jam yang diam. Aku menutup mata, membiarkan kemarau panjang itu berakhir di sini, di titik nol waktu.Dan saat aku membuka mata, di bangku batu di sudut alun-alun, aku melihat sosok yang akrab. Seorang pria sedang duduk, memandang lurus ke menara jam itu, mengenakan jaket yang sama yang ia kenakan saat senja terakhir kita. Itu dia. Kamu.Ia tidak menyadariku. Ia tampak lelah, tetapi matanya memancarkan kedalaman yang sama seperti yang kuingat. Aku tidak tahu harus lari, berteriak, atau menangis. Aku hanya tahu satu hal: Badai pemecah kemarau akan segera tiba, dan aku harus menjadi pelabuhan yang tenang.
BAB 10
Pukul 12:00: Momen yang Tertahan
Aku berdiri terpaku, tersembunyi di balik pilar batu yang dingin, mengamati Kamu. Kamu tampak seperti patung yang diukir dari penantian. Rambutmu sedikit memanjang, jaketmu tampak usang, tetapi tatapanmu ke arah menara jam yang mati itu begitu intens, seolah kamu sedang bernegosiasi dengan waktu yang berhenti.Aku menarik napas panjang, merangkai setiap kata, setiap resolusi yang telah kutulis di atas kapal dan di dalam kereta. Aku tidak datang sebagai Aku yang dulu—yang rapuh dan menuntut—tetapi sebagai Aku yang sudah matang, yang membawa seluruh kisah perjalanan ini.Aku melangkah pelan, sepatuku berderit samar di atas paving batu tua. Hanya beberapa langkah. Jarak yang selama hampir lima ratus hari terasa seperti galaksi, kini hanya tinggal tiga meter.Kamu pasti mendengar derit itu. Kepalamu menoleh perlahan, dan saat mata kita bertemu, dunia seolah ikut berhenti, menyelaraskan diri dengan jarum jam di atas menara itu.Di matamu, aku melihat badai yang jauh lebih besar daripada kemarau yang kurasakan. Aku melihat kelelahan, keterkejutan, dan kemudian... air mata yang tiba-tiba menggenang."Aku..." ujarku, suaraku parau. Hanya satu kata, dan aku kehabisan napas.Kamu bangkit dari dudukmu, gerakannya lambat, seperti melepaskan beban yang sudah dipanggul terlalu lama."Kau... tidak seharusnya datang," bisikmu. Suaramu terdengar asing dan penuh rasa bersalah."Aku harus," jawabku, kini suaraku lebih stabil. "Aku harus memastikan bahwa botol pesanku tidak hanyut ke dasar. Aku harus melihat menara jam yang membuatmu berhenti."Kamu mendekat, satu langkah, lalu yang kedua. Di hadapanku, kamu tidak lagi tampak sebagai pahlawan dari masa laluku, tetapi sebagai manusia yang terluka."Aku minta maaf atas keheningan itu," katamu, suaramu kini bergetar. "Aku tidak pernah berniat menghilang. Aku datang ke sini, ke kota yang sunyi ini, untuk menyelesaikan sesuatu yang harus kulakukan sendirian. Sebuah tanggung jawab. Aku harus melindungi... sesuatu. Aku ingin menulis surat, tapi aku tahu, jika aku menulis, aku tidak akan punya kekuatan untuk tidak kembali padamu saat itu juga. Aku memilih untuk diam, berharap kau akan melupakanku, demi kebaikanmu."Setiap kata-katamu adalah air dingin yang perlahan membasahi gurun pasirku. Aku mengangguk, tanpa perlu penjelasan lebih lanjut. Aku sudah tahu. Aku sudah mendengarnya dari Penjaga Kata, dari perajin keramik. Ini bukan kealpaan. Ini adalah pengorbanan yang disalahartikan."Kemarau itu panjang," kataku, air mata akhirnya mengalir di pipiku, tetapi itu bukan air mata kesedihan, melainkan kelegaan. "Tapi aku tidak melupakan. Aku hanya belajar untuk menanam kaktus agar aku bisa bertahan."Kamu mengulurkan tanganmu, ragu-ragu. Aku menyambutnya. Sentuhan itu... terasa nyata, membumi, dan hangat."Bagaimana kau menemukanku?" tanyamu, menatap kartu pos di tanganku."Aku tidak mencarimu," kataku, sambil memegang erat tanganmu. "Aku mencariku. Aku mencariku melalui jejak impianmu. Aku datang ke museum bintang, ke bengkel keramik. Dan aku menulis sebuah novel dari diary lusuhku."Aku mengeluarkan diary lusuh itu. "Ini bukan lagi buku harian. Ini adalah kisah tentang bagaimana aku bertahan tanpamu, dan bagaimana aku menemukan bahwa aku cukup kuat untuk mencintaimu, bahkan saat kau tidak ada."Kamu mengambil buku itu, memeluknya ke dada. Pada saat itu, semua penantian, semua kesakitan, semua pertanyaan yang tidak terjawab, menjadi tidak relevan.Aku tidak meminta janji apa pun. Aku tidak menanyakan apa yang terjadi selanjutnya. Aku hanya berdiri di sana, di bawah menara jam yang berhenti, di titik nol waktu."Aku tidak bisa menjanjikan bahwa jam ini akan berputar lagi, segera," katamu, suaramu serak."Tidak apa-apa," bisikku. "Aku sudah tahu. Aku tidak butuh jam berputar. Aku hanya butuh tahu kau baik-baik saja."Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak lagi merasakan kemarau. Aku merasakan badai—badai emosi yang dahsyat, yang akhirnya memecahkan lapisan es di hatiku. Kamu menarikku ke dalam pelukan. Pelukan yang bukan janji, melainkan sebuah pengakuan bahwa kita, pada akhirnya, terbuat dari takdir yang sama. Aku telah menemukan oase, bukan di air yang kamu berikan, tetapi di kekuatan yang kutemukan sendiri untuk mencapainya.
BAB 11
Pagi Setelah Hujan
Pelukan itu terasa seperti menambal retakan di jiwa yang telah lama dibiarkan terbuka. Itu bukan pelukan penuh gairah; itu adalah pelukan yang damai, yang sarat dengan pengakuan dan penerimaan. Kami berdiri di sana, di bawah menara jam yang membeku pada pukul 12:00, membiarkan waktu yang tertahan di kota sunyi itu mengalir kembali melalui napas kami.Setelah beberapa saat, kami melepaskan diri, tetapi tangan kami tetap bertaut. Kami berjalan, menjauhi alun-alun, mencari kehangatan di sebuah kedai teh kecil di sudut jalan yang tersembunyi.Di sana, di antara aroma teh yang mengepul dan kehangatan kayu tua, kamu bercerita. Kisahmu adalah badai yang jauh lebih besar daripada kemarau yang kurasakan. Kamu tidak menghilang karena kehendak bebas, tetapi karena sebuah kewajiban keluarga yang mendesak dan rumit, yang menuntut kerahasiaan total dan isolasi geografis—situasi yang tidak bisa kamu bagi tanpa membahayakan dirimu atau diriku."Aku tahu, itu adalah tindakan pengecut," katamu, menatap cangkir tehmu yang tak tersentuh. "Meninggalkanmu tanpa sepatah kata pun. Tapi aku tidak punya pilihan selain membiarkanmu berpikir aku menghilang, daripada memaksamu berbagi beban yang bukan milikmu."Aku mendengarkan tanpa interupsi. Tidak ada air mata lagi, hanya kejelasan yang dingin. Kemarahan yang sempat tersimpan lama kini menguap, digantikan oleh pemahaman yang mendalam."Aku mencari keheningan di sini, tempat di mana tidak ada yang mengenalku, untuk menyelesaikan semua ini," lanjutmu. "Kartu pos itu... aku menulisnya saat aku mencapai titik terendah. Itu seharusnya menjadi pesan terakhir, penjelasan, sebelum aku benar-benar melepaskan segalanya. Tapi aku tidak pernah bisa mengirimkannya. Aku hanya menyimpannya, sebagai satu-satunya bukti bahwa Aku yang dulu masih ada.""Mengapa kartu itu ada di kamarku?" tanyaku, masih penasaran."Aku tidak tahu," katamu, menggelengkan kepala. "Mungkin itu adalah keajaiban kecil dari takdir. Atau mungkin... penghuni kamar itu adalah orang yang sempat kutemui di sini, yang kembali ke kotamu. Entahlah. Yang pasti, ia melakukan tugasnya."Aku mengambil diary lusuhku dan menyerahkannya padamu. "Ini. Ini adalah kemarauku. Ini adalah apa yang terjadi padaku saat jammu berhenti. Aku berharap kau akan membacanya. Bukan untuk merasakan kesalahanku, tapi untuk melihat bagaimana aku menemukan diriku yang baru."Kamu memegang buku itu, jarimu membelai sampulnya yang usang. Matamu yang dalam menatapku dengan kehangatan yang tak terlukiskan."Aku tidak pantas menerima ini," bisikmu."Kau pantas mendapatkan kebenaran," kataku. "Dan aku tidak datang untuk menyalahkan. Aku datang untuk memastikan bahwa kemarauku sudah berakhir. Dan ia berakhir, bukan karena aku menemukanmu, tetapi karena aku menemukan bahwa aku bisa bahagia tanpa harus menemukanmu. Dan ironisnya, saat aku berhenti mencari, takdir membawaku ke sini."Kami menghabiskan sisa sore itu dengan berbicara, bukan tentang masa lalu yang menyakitkan, tetapi tentang masa depan yang mungkin. Tidak ada janji untuk kembali bersama, tidak ada deklarasi dramatis. Hanya sebuah kesepakatan diam-diam untuk saling memahami dan saling menerima.Malam itu, di kamar hotel kecil yang dingin, aku membuka buku catatan baruku. Aku menuliskan bab terakhir....Aku tahu, besok, entah ke mana kakimu akan melangkah, kita tidak lagi berjalan dalam kegelapan. Badai pemecah kemarau yang kutunggu-tunggu ternyata bukanlah datangnya dirimu sebagai penyelamat, melainkan adalah proses di mana aku belajar memeluk kaktus kesepianku hingga ia berbunga.Aku akhirnya mengerti. Cinta sejati bukanlah akhir dari pencarian. Cinta sejati adalah keberanian untuk memulai pencarian baru, bahkan setelah terluka, dan tetap menemukan keindahan dalam setiap jejak.Aku tersenyum, menutup buku. Di luar, embun jatuh, dan aku bisa mencium bau tanah yang basah. Aku yakin, pagi ini, di kota itu, menara jam mungkin masih berhenti, tetapi waktu di hatiku telah berdetak kembali.
